Article Image Bob Dylan/Ilustrasi: dok. Jalur Musik (Bagas Nik Harsulung)

Kolom: Bob Dylan Juga Manusia

Lagu-lagunya dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap kekuasaan. Seorang penyanyi yang bisa membuktikan ke dunia bahwa musik Folk bisa memberikan pengaruh dalam budaya populer.


jalurmusik.com -  Bagaimana jadinya dunia ini jika seseorang bernama Bob Dylan tidak pernah ada? Tentu dunia akan tetap berjalan. Abad 20 tetap melahirkan perang dunia, ideologi-ideologi akan tetap bermunculan untuk memikat hati warga dunia dengan paham yang mereka tawarkan, gedung-gedung pencakar langit tetap tinggi menjulang di negara maju, sementara gubuk-gubuk reot dan kelaparan menjadi kenyataan yang tak bisa dihindarkan.

Ya, dunia akan tetap berjalan ada atau pun tak ada Dylan. Tapi syukurlah, Dylan hadir ke muka bumi. Seorang penyanyi yang terlahir dengan nama Robert Allen Zimmerman, yang pada kemudian hari ditahbiskan sebagai sang Nabi oleh penggemar fanatiknya.

Lagu-lagunya dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap kekuasaan. Seorang penyanyi yang bisa membuktikan ke dunia bahwa musik Folk bisa memberikan pengaruh dalam budaya populer. Di masa sebelum Dylan muncul, Folk kerap dianggap musik picisan, kelas rendahan dan hanya dirilis di label-label kecil. 

Berkat Dylan, Folk naik kelas. Sampai suatu ketika dirinya bertemu dengan John Hammond yang membawanya ke Columbia Records kemudian menemui Lou Levy, pemilik Leeds Music Publishing, untuk mengurus karier Dylan.

Waktu berjalan, nama Dylan meroket. Ia muncul tahun 1960-an sebagai ikon gerakan antiperang di era Perang Vietnam. Lagu-lagunya, mulai “Blowin' in the Wind” hingga “The Times They are a-Changin”, menjadi lagu wajib perjuangan hak asasi manusia dan pergerakan antipeperangan. 

Majalah musik Rolling Stone menempatkan Bob Dylan dalam urutan kedua pada daftar "Greatest Artists of All Time". Ia juga membawa pengaruh untuk musisi-musisi lain seperti The Beatles, Beach Boys hingga Sex Pistols. Pendek kata, kesuksesan telah ia genggam.

Jatuh Cinta dan Bertemu Joan Baez

Dylan pernah menjalani hubungan dengan seorang perempuan. Kendati telah banyak menjalani hubungan dengan banyak perempaun, namun publik dunia akan selau mengenang kisahnya bersama Joan Baez, penyanyi Folk perempuan yang sama-sama vokal terhadap keadaan.

Keduanya tak hanya jatuh cinta seperti remaja belasa tahun yang diamuk api asmara, tapi lebih dari itu, pasangan ini juga menyatu dalam gagasan ide serta menyuarakan kehidupan sosial politik yang sarat akan protes.

Dylan pertama kali melihat Joan Baez di televisi pada 1961. Dirinya langsung terpukau melihat "Queen Of Folk" tersebut bernyanyi. Saat itu, Joan Baez telah merilis rekaman lewat label Vanguard berjudul Joan Baez.

Saya tidak bisa berhenti menonton Joan, tidak ingin berkedip sama sekali. Dia luar biasa menawan, rambut hitam berkilauan yang terurai sampai ke lekungan pinggangnya yang ramping, bulu matanya yang terkulai, sedikit lentik, tidak seperti boneka Raddegy Ann…” puji Dylan.

Baez dan Dylan beberapa kali tampil berduet. Salah satunya saat Pawai Gerakan Hak-Hak Sipil di Washington tahun 1963. Mereka juga merekam lagu bersama-sama. Awal 1965, keduanya melakukan tur keliling AS bersama-sama. Sayang, tak lama kemudian, keduaya memutuskan berpisah dipertengahan 60-an.

Kepada majalah Rolling Stone, Baez mengungkapkan perbedaan misi di antara mereka ialah karena kecenderungan Dylan untuk menggabungkan musik Folk dan Rock ditambah minatnya yang semakin berkurang pada lagu-lagu protes. Kedua hal tersebut membuat mereka terpisah. 

Selain itu, Baez mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap obat-obatan terlarang yang dikonsumsi Dylan. Selama reuni mereka pada 1975-1976 Rolling Thunder Revue, misalnya, semakin menegaskan ketidaksukaan Baez terhadap gaya hidup Dylan sebagai musisi. 

Saya adalah satu-satunya yang tidak menggunakan narkoba,” ungkap Baez.

Masa Terpuruk

Akan tetapi, Dylan juga manusia. Ia bisa marah pada keadaan, ia bisa membenci dirinya sendiri, ia benci popularitas, ia jenuh dengan pengulangan-pengulangan, ia lelah dengan popularitas, ia bisa patah hati, ia bisa muak pada kehidupan dan musiknya. Ia bisa terpuruk.

Dalam otobiografinya, Chronicles: Volume One (2004), Dylan mencurahkan bagaimana ia bisa lelah sebagai penyanyi yang namanya dipuja-puja. Pada 1987, ia pernah mengalami cedera tangan yang membuatnya harus beristirahat untuk beberapa waktu. 

Dalam masa pemulihan tersebut, Dylan banyak merenungkan perjalanan hidup yang membawa namanya ke puncak popularitas. Tentang dirinya yang menemukan ketakutan tak sanggup melahirkan karya baru yang tak kalah mengesankannya dengan karya terdahulu.

Seluruh potensi yang saya miliki hancur berkeping-keping. Ada ratusan konser yang dijadwalkan mulai musim semi dan saya tidak yakin bisa tampil. Sungguh pengalaman yang membuat saya sadar. Sekarang memang masih Januari, tapi tangan saya butuh banyak waktu untuk sembuh dan pulih,” tulis Dylan

Orang-orang disuapi berbagai rilisan saya secara rutin selama bertahun-tahun, tapi penampilan live saya sepertinya tak berhasil menangkap jiwa dalam lagu yang sejati, tak mampu memberikan makna baru bagi lagu-lagu tersebut. Keintiman itu, salah satu dari sekian banyak hal, telah raib. Bagi para pendengar, mereka seolah sedang melewati kebun buah yang terbengkalai dan rumput-rumput mati. Pendengar saya atau pendengar saya di masa depan tidak bisa lagi merasakan padang yang baru dibajak dan hendak saya olah,”papar Dylan lagi.

Sebenarnya, kendati ia mengalami kemandekan dalam berkarya, ia tetap berusaha, ya walau pada akhirnya yang ia temui hanyalah keputusasaan demi keputusasaan. 

Saya berusaha menyelesaikan persoalan ini, tapi tak ada rumus yang tepat. Mungkin jika saya sudah bisa menduga kejadian ini sejak dulu, tetapi tidak bisa. Bagus kalau saya bisa dikenal sebagai legenda, dan orang-orang tentu mau membayar menyaksikan legenda, tapi sekali saja sudah cukup.

Sebenarnya, bukan hanya Dylan yang pernah merasakan hal serupa. Salah satu musisi yang pernah mengalami ini ialah vokalis dari band The Police, Sting.

Dalam sebuah wawancara di acara televisi ”Inside the Actors Studio” 2014 silam, Sting mengakui, ia tidak menulis lagu baru selama delapan tahun karena lelah harus menyajikan kehidupan pribadinya kepada publik. 

Menurut Sting, karier musik, dari menggabungkan ritme dengan melodi, secara tidak sadar menggabungkan pengalaman serta sejarah hidup untuk menjadi sebuah karya untuk dinikmati publik. 

Saya berkesimpulan bahwa saya terlampau banyak mempertontonkan kehidupan pribadi saya sampai akhirnya lelah sendiri. Saya rasa selama delapan tahun saya tidak sekalipun menulis lagu baru. Saya ikut tur, merekam lagu, tetapi musik orang lain, album musim dingin juga saya buat tetapi tidak bisa mencerminkan karya orisinal saya,” ujar Sting.

Bangkit, Tua dan Menjadi Legenda

Ditahun-tahun keterpurukan, akhirnya Dylan berhasil bangkit. Pada 1988 Dylan memulai apa yang dikenal dengan istilah Never Ending Tour dan itu terus berlangsung sampai 90-an. Dylan kemudian mulai membagi waktunya antara konser, menulis dan proyek studio dan kembali ke dunia rekaman pada 1992. Menyusul pada 2001, Dylan merilis album Love and theft dan meraih penghargaan emas sekaligus ia mengumumkan bahwa ia telah membuat film sendiri.

Dan, yang lebih membanggakan ialah ketika 2016 lalu, ia dianugerahkan penghargaan nobel sastra. Hal ini baru terjadi sekali sepanjang sejarah, di mana seorang musisi lah yang meraih penghargaan di bidang kesusastraan tingkat dunia itu.

Ya, begitulah Dylan.  Kendati dalam musik, nama-namanya dipuja-puja bak Nabi, tapi ia tetaplah manusia. Dylan sama seperti kita, manusia biasa. Ia bisa marah, ia bisa sakit, ia bisa sedih, ia bisa jatuh dan ia pun bisa bangkit. 

Baca Juga:

Rekaman The Rolling Stones dari Tahun 1968