Article Image Foto: Jalur Musik/Brian Pradana

Obrolan Musik: Astrid Rindu dengan Musik Eksperimental

Ia sedang mempersiapka proyek eksperimental bernama In Circle.


jalurmusik.com – Besar di era 2000-an, ada beberapa film horror yang berkesan dengan soundtrack yang juga berkesan.

Salah satu lagu yang membekas untuk anak-anak generasi tersebut datang dari seorang penyanyi wanita bernama Astrid, yang pada saat itu datang dibawah naungan Sony Music Entertainment membawakan lagu “Ratu Cahaya” yang ikonik bersamaan dengan lagu “Arah” dari /rif mengisi soundtrack film Tusuk Jelangkung.

Namun setelah lagu-lagu bernuansa gelap tersebut, Astrid terus kembali dengan lagu-lagu pop balada dan sempat hampir mendominasi industri musik Indonesia dengan single-single hitnya seperti “Jadikan Aku Yang Kedua” dan “Tentang Rasa”.

Beberapa waktu lalu, tim Jalur Musik berhadapan langsung dengan Astrid untuk membahas hal tersebut. Simak perbincangannya di bawah ini.

Aku punya beberapa pertanyaan nih yang pengen disampaikan, ada beberapa hal yang bikin penasaran sih. Tapi kayaknya bakal dimulai dari awal karier, pengen tahu juga background story-nya kayak apa.

Jadi dulu pertama kali tuh, aku lahir di Surabaya besar juga di Surabaya sampai SMA/Kuliah. Terus waktu SMA udah mulai suka ngeband. Udah mulai ngeband apalah, ikutan festival band dan sebagainya gitu.

Terus ternyata wakut kuliah lebih seirus lagi nyanyinya udah mualai di kafe dan sebagainya. Nah di situlah aku dipertemukan atau ditemukan sama salah satu A&R, salah satu orang yang memang dia pencari bakat ya pada saat itu. Terus akhirnya ditawarin lah aku untuk nyanyi soundtrack Tusuk Jelangkung waktu itu, judulnya “Ratu Cahaya” di bawah naungan label Sony Music, A&R nya pak Jan Djuhana waktu itu. Dia pengen aku nyanyiin lagu itu karena sebelumnya sempet Pak Jan itu nerima demo juga. Aku dulu sama bandku tuh sempet bikin iseng-iseng gitu, kan kita ada beberapa band di Surabaya yang suka main regular di kafe, Colors Pub waktu itu. Jadi kita di-challenge, selama ini kan kita selalu nyanyiin lagu orang ya, top forty dan sbeagainya. Kita di-challenge untuk bikin lagu sendiri. Akhirnya direkamlah yang kita bikin itu, demo itu yang dikirim ke Sony Music, dan pada saat itu langsung disambut 'Oh ini, kita pengen Astrid nyanyiin lagu 'Ratu Cahaya' yang merupakan soundtrack film horror Tusuk Jelangkung', di tahun 2003, itu rilisnya.

Tapi waktu itu sama bandnya Kak Astrid udah dengan suara kak Astrid yang kayak gini?

Iya kayanya ya (tertawa). Ya mungkin itu salah satu pertimbangannya memilih aku untuk menyanyikan soundtrack itu karena suaranya begitu, suaranya agak-agak menghantui. Memang pada saat aku nyanyi di kafe itu, mungkin itulah proses di mana aku akhirnya menemukan ciri khas nyanyi yang seperti ini. Tapi sebenernya kalo ditanya 'Gimana kok suaranya bisa kayak gitu sih kak?' bingung yaa jawabnya yaaa (tertawa). Tapi mungkin kalo aku bisa jawab, mungkin karena dulu sering dengerin lagu apa, referensi lagu apa, terus sering nyanyiin lagu apa pada saat aku nynayi di kafe gitu. Jadi dulu aku sering banget nyanyiin Alanis Morisette, pokoknya era 90-s lah. Aku besar di era-era 90-an Alanis Morisette, Cranberries, Frente, terus akhirnya ketemu sama Bjork. Begitu ketemu Bjork tuh kayak langsung jatuh cinta. Langsung yang kayak 'Wah ini sih idolaku' bener-bener yang kayak gitu. Walaupun sebenernya waktu itu, lagunya aku nggak paham yaa (tertawa).

Iya, emang musiknya digabunging sama suaranya Bjork jadi muncul suasana itu ya

Ini sebenernya, cuman aku ngerasa dia kayak bebas aja nyanyinya, aku nggak peduli sebuah teknik nyanyi yang seperti apa ya, tapi ya ini caraku nyanyi aja. Itulah yang akhirnya sampe sekarang, cara nyanyi yang seperti itu akhirnya diketemukan gara-gara sering nyanyi dan ketemu Bjork.

Sebenernya pengen tahu juga sih musisi-musisi yang memengaruhi Kak Astrid dalam bernyanyi, tapi udah kejawab juga.

(tertawa)

Era 90-an lah.

Awal-awal Kak Astrid muncul ke permukaan kan dengan lagu “Ratu Cahaya” tadi yang bernuansa gelap, setelah itu kalo engga salah ada beberapa karya lagi yang masih ada nuansa gelapnya.

Iya, jadi pertama keluar itu single “Ratu Cahaya”, dua tahun kemudian bikin album judulnya Astrid, ternyata album itu sebagai soundtrack film horror juga, film Mirror.

Lagunya “Cinta Itu” ya?

Yap, 'Cinta Itu' terus yang sama Andy Rif itu, semuanya nuansanya dark, karena memang untuk film horror juga dan itu album paling eksperimen sih sebetulnya, album pertama itu.

Soalnya karena lagu-lagu tadi, jadi muncul persepsi bahwa Astrid emang khusus nyanyiin lagu-lagu bernuansa dark, tapi belakangan kan berubah jadi lebih ballad.

Iya nge-Pop banget. Jadi sebenernya itu melalui banyak sekali proses ya. Sebenernya lagu 'Ratu Cahaya' itu lagu alien banget, sampe suka (tertawa geli), kalo aku personally suka karena emang udah dengerinnya seperti zaman dulu. Masih muda suka eksperimen, aneh-aneh, ingin menunjukan, wuahh gimana gitu lah. Nah terus berjalannya waktu, dari label pengen aku 'Ayo coba kita eksplor Astrid lebih dalam lagi'. Waktu itu sempet dikasih lagu 'Jadikan Aku Yang Kedua'. Jadi itu bener-bener kayak trial and error sebetulnya. Kalo kita mau launching product nih, itu kaya trial and error 'nih coba nih, coba'. Dicoba-coba di semua lagu. Begitu 'Jadikan Aku Yang Kedua' ternyata responnya bagus banget karena lagunya menggoda sekali. Ternyata aku cocok menyanyikan lagu seperti itu. Jadi label malah lebih pengen eksperimen aku di lagu-lagu Pop yang ballad. Akhirnya dilanjutin di single yang berikutnya 'Tentang Rasa', 'Mendua', 'Terpukau', semua itu ballad karena memang akhirnya Pak Jan menemukan formulanya. 'Kalo Astrid menyanyikan lagu ballad itu akhirnya luar biasa' karena memang waktu itu kan masih ada RBT, waktu itu memang terbukti 'Tentang Rasa' itu memang sampe sepuluh juta download. Enggak di Indonesia juga, di Malaysia juga suka banget lagu itu. Mungkin itulah alasannya.

Ada kerinduan nggak bawain lagu-lagu dengan beat-beat Industrial dengan nada-nada yang gelap?

Banget! Banget. (tertawa)

Iya itu emang aneh (tertawa lagi), sampe sekarang kalo denger 'wah ini emang alien lagunya gila tuh'.

Jadi memang ada salah satu project yang sedang aku kerjakan. Ini adalah project idealisme lah sebenernya. Karena memang di luar Astrid yang sekarang, bener-bener berbeda. Ini kayak project yang sama-sama diidamkan karena aku enggak sendiri, aku berdua sama Adrian, Adrian Martadinata kita bikin nama grupnya In Circle, nah di sinilah waktunya saya bereksperimen (tertawa). Di sini waktunya saya untuk suka-suka gitu. Jadi mudah-mudahan aja di tahun ini bisa segera rilis. Emang kita  udah ngerjain sih, beberapa materi dan memang mungkin kita akan ngeluarinnya per single ya, karena memang itu bisa dilakukan dengan mudah. Tapi kita mempersiapkan beberapa materi yang bisa kita bikin untuk satu show. Jadi paling enggak kalo kita show nggak mungkin bawain satu lagu kan? Karena kita udah jelas enggak mungkin bawain lagu orang.

Ya moga-moga, ini agak deg-degan juga sih karena emang seneng tapi, waduh gimana yaa am so excited!

Ini orientasi utamanya bukan uang ya?

Bukan, jadi ini lebih menjadi media untuk berekspresi.

Walaupun lagu-lagu yang Pop ballad kemaren tetap mencerminkan jati diri Astrid juga ya.

Betul, jadi aku tidak bisa bilang itu enggak Astrid juga. Karena memang aku banyak belajarlah, udah berapa belas tahun itu dari 2003 sampai 2019. Jadi aku banyak melalui pasang surut dan sebagainya, sempat menyerah, jadi ini bagian dari hidup lah, dari passion aku selama ini.

Tapi kalo ditantang untung nyebutin satu lagu yang bener-bener mewakili jati diri Astrid, ada enggak?

(Tertawa) iya, “Ratu Cahaya”, makanya aku bikin project In Circle tadi untuk melampiaskan hasrat yang terpendam ini.

Tapi kenapa enggak dari dulu sih Kak project kaya gini?

Apa ya? Mungkin karena selain tuntutan dari label juga, semua kan kembali pada, waktu itu, yang banyak dengerin atau enggak. Waktu itu label aku memang pengennya kalo bisa yang dengerin tuh massanya banyak, jadi zaman itu ya, ternyata “Ratu Cahaya” massanya enggak banyak, segmented banget waktu itu.

Astrid sekarang ini cita-citanya apa sih?

Ya aku sih pengen banget mengeluarkan project idealisme itu tadi. Udah lama sebetulnya ingin mengeluarkan ini. Ini mungkin bisa jadi pemberi semangat juga pada karier aku yang sebelah sini (kanan alias proyek Astrid sebagai solois selama ini), jadi aku menjalani enggak setengah hati. Karena selama ini kan ada idealisme yang terpendam dalam menjalani sisi kanan ini, makanya aku harus segera mengeluarkan yang sisi kiri ini supaya balance, supaya lebih happy lah (tertawa).

Ada pesan apalagi nih untuk publik?

Mungkin banyak yang belum tahu Astrid, karena memang aku mengalami, dari project kolaborasi sama Anji itu, ternyata banyak sekali pendengar baru.

Karena mungkin generasinya udah berubah kali ya?

Bener (tertawa). Hai saya Astrid! (tertawa lagi)

Kemaren pada saat aku nyanyi sama Anji, banyak sekali pendengar baru yang mungkin agak aneh denger suara aku. 'Kok nyanyinya digitu-gituin sih?'

Aku sebetulnya seneng banget karena berarti berhasil ya, maksudnya, projek kolaborasi ini berhasil. Karena kita bisa jadi cross pasar. Mungkin selama ini aku menyanyikan sama followers aku atau pendengar aku yang udah tau aku, tapi untuk anak-anak yang baru mungkin jadi, 'kok nyanyinya di desah-desahin gitu sih?'

Banyak banget sih komen-komen yang lucu baanget, mungkin masih belum pada tahu kali ya?

I’m so happy sih menemukan hal tersebut.

Iya nanti dipasangin lagu-lagu Astrid supaya pendengar-pendengar baru punya bayangan dari mana asal nyanyi didesah-desahin kaya gitu, hehe. Ka Astrid, terimakasih banyak ya atas sambutannya!

Sama-sama, thankyou!

Baca Juga:

Bincang-Bincang Seputar Garage Punk Bersama Om Robo

Monica Hapsari Bermusik Dengan Merdeka