Article Image SUmber: dok. Jalur Musik

Ulasan Album: D'Masiv Masih D'Masiv di Album Terbarunya

Tunggu kejutan di lagu penutup album ini. Walaupun tidak tersedia di layanan streaming, Anda masih bisa mendapatkan album ini di gerai KFC terdekat.


jalurmusik.com – Sebagai penikmat musik, bisa dibilang saya berada di luar dari demografis target pasar D’Masiv. Sepanjang hidup, bisa dihitung lagu-lagu grup musik pimpinan Rian Ekky Pradipta yang terpapar pada telinga yang lebih condong untuk tertarik pada lagu-lagu bernuansa lain di luar balada cinta ini.

Ternyata terjadi sebuah sinkronisitas yang membuat telinga ini akhirnya berkesempatan untuk menelaah album terkini dari D’Masiv yang berjudul Cinta

Album ini dirilis sekitar dua bulan yang lalu di bawah naungan Musica Studio’s dan didistribusikan melalui kios-kios KFC di seluruh Indonesia. Dari sana juga Tim Jalur Musik mendapatkan album Cinta ini, saat perut sedang menahan lapar dan mengharapkan makanan, ternyata malah disuguhkan dengan CD berisi sepuluh trek Rock Balada yang bertema sesuai dengan judul albumnya.

Sekilas mendengar album ini, terasa seperti yang diharapkan. Agak sulit untuk menemukan sesuatu yang baru. Hal-hal yang paling mudah untuk ditunjuk adalah progresi chord yang sudah sering muncul pada lagu-lagu Rock yang populer dan tema yang sangat umum.

Lagi-lagi tema menjadi sesuatu yang agak sulit untuk diterima, memang sangat subyektif, namun untuk orang yang lebih tertarik untuk mendengar masalah lain seperti kehidupan dan kematian, perlawanan terhadap pola pikir yang salah, asal usul dunia dan topik-topik lainnya itu lah yang dapat dikatan.

Tapi setelah dipikir-pikir, telinga ini juga masih menerima tema-tema cinta apabila dikemas dengan menarik dan memiliki kedalaman. Jadi sebenarnya masalahnya bukan di tema cinta, namun pada cerita-cerita yang diungkapkan dan cara penyampaiannya.

Karena pastinya untuk dapat terhubung dengan lagu-lagu tersebut, pendengar harus memiliki pengalaman yang mirip dengan lagu yang didengarnya. Masalahnya, pendengar yang menulis artikel ini tidak memiliki pengalaman serupa dengan lagu-lagu yang ada di album yang katanya menghabiskan biaya produksi yang mahal, sehingga tidak bisa merasakan emosi yang tertuang di dalamnya.

Bahkan lagu “Jangan Menyerah” yang sangat umum, yang kelihatannya bisa menyentuh emosi banyak orang dan memberikan semangat pada pendengarnya, tidak berhasil untuk menyajikan unsur baru untuk pendengar sok pintar yang menulis artikel ini.   

Sekali lagi ditekankan, penulis artikel ini sudah semakin yakin bahwa ia bukan menjadi bagian dari target pasar album ini. Buktinya mereka bisa menghibur jutaan penggemar lainnya di seluruh Indonesia. Jadi, fungsi utama artikel ini hanyalah sebagai media penulis untuk menganalisa unsur dan mengekspresikan alasan kenapa album ini tidak ditulis untuk orang-orang diluar target pasar tersebut.

Menurut seorang narasumber yang mengaku sebagai Masiver, dalam album ini terdapat beberapa tembang lama yang sudah dikenal sebelumnya seperti “Jangan Menyerah”, dan nomor terkini mereka yang baru saja diluncurkan video musiknya, “Lelaki Pantang Menyerah”.

Terdapat juga nomor kolaborasi seperti “Ingin Lekas Memelukmu Lagi” bersama Pusakata yang sudah dirilis akhir tahun lalu, “Pernah Memiliki” bersama Rossa & David Noah, serta tembang lawas ciptaan Eross Djarot dan Yockie Suryoprayogo “Selamat Jalan Kekasih” yang menampilkan almarhum Chrisye & Maizura.

Namun, ada satu hal yang mengejutkan pada akhir album ini, yaitu nomor berjudul “Dunia Dalam Genggaman” yang menyerukan kata-kata asing dalam liriknya.

Setiap waktu pun bermakna dunia di dalam genggaman karena kita Paytren” nyanyi Rian menutup album ke-6 D’Masiv.

Sebelum membaca liriknya, tim Jalur Musik sedikit kesulitan untuk mencerna arti lagu ini, sampai akhirnya menyadari bahwa album ini bekerja denganplatformstreaming Indonesia, Peymusik.

Setelah melakukan sedikit riset alias memasukan kata kunci “d’masiv dunia dalam genggaman” ke dalam kolom pencarian google, akhirnya misteri tersebut terjawab. Ternyata D’Masiv memang mendedikasikan sebuah nomor untuk perusahaan tersebut. Sebuah gerakan yang berkesan sangat tidak artistik yang merusak perasaan yang mati-matian dibangun untuk mencoba merasakan emosi pada album ini.

Walaupun demikian, tindakan seperti itu amat sangat bisa dimengerti untuk label sebesar Musica Studio’s yang sudah melekat dengan stigma label mayor yang mengutamakan penjualan, dan itu bukanlah hal yang salah.

Apabila dilihat dari sudut pandang bisnis, hal tersebut merupakan hal yang jenius karena mereka mampu menjangkau khalayak ramai dan memasarkan produk mereka dengan sangat luas. Hanya saja, beberapa orang tidak termasuk ke dalam target pasar tersebut dan merasa terganggu dengan hal-hal yang terkesan mengorbankan sisi artistik untuk kepentingan bisnis.

Dari segi musik sendiri, tidak ada yang salah dengan karya-karya D’Masiv. Aransemen dan komposisinya sangat baik. Secara musikalitas, tidak perlu diragukan lagi. Rian sebagai penulis lagu memang terkenal sebagai orang yang bisa mewakili perasaan Masivers se-Indonesia.

Masalah-masalah remeh yang pernah dirasakan semua orang dikemas dengan lirik-lirik yang familiar, dengan kata-kata yang mudah dicerna. Namun hal tersebut mengorbankan aspek novel alias hal baru dalam lagu-lagunya.

Selain masalah itu, terdengar jelas pihak produser memasukan suara-suara instrumen modern seperti solo synthesizer yang sangat emosional pada “Kesempatan Bersamamu” (yang ngomong-ngomong merupakan nomor favorit penulis). Nomor ini dimulai dengan sangat kuat dan penuh energi, menggambarkan harapan, dan ditutup dengan alunan piano yang lembut mengiringi lantunan vokal Rian,  menggambarkan harapan yang mulai pupus. Seperti mengungkapkan lelahnya mengemis perhatian untuk dapat menghabiskan waktu bersama dengan orang yang kita inginkan.

Bukan berarti lagu lainnya tidak bagus, hanya saja yang mereka sajikan bukanlah hal yang baru untuk D’Masiv apalagi untuk kancah musik. Agak sulit sepertinya mengungkapkan hal ini tanpa menimbulkan kesalahan taksir.

Bayangkan saja, D’Masiv yang didirikan lebih dari 15 tahun yang lalu, masih mengeluarkan materi yang hampir serupa dengan karya-karya awal mereka. Lagu “Lelaki Pantang Menyerah” dan “Jangan Menyerah” saja mungkin sudah berumur lebih dari satu dekade. Belum lagi melihat grup musik satu paguyuban mereka yang memiliki jenis musik serupa, seperti Noah dan Nidji.

Walaupun begitu, dua hal positif dari tindakan mereka ini adalah menjaga nostalgia untuk pendengar-pendengar setianya, serta membawa kemudahan untuk pendengar musik yang belum memiliki banyak referensi sehingga orang-orang tersebut dapat menikmati cerita dalam bentuk musik yang diproduksi dengan sangat baik.

Dengan menulis artikel ini, penulis sendiri pun sadar bahwa album ini sebenarnya merupakan album yang baik yang dapat dinikmati oleh orang-orang banyak, baik Masivers maupun orang-orang yang baru diperkenalkan dengan musik atau orang-orang yang tidak memiliki banyak referensi musik.

Untuk secuil orang-orang yang rajin mencari referensi lagu-lagu paling edgy masa ini, pendapat kalian tidak berpengaruh kepada keberhasilan D’Masiv dan Musica Studio’s, karena golongan kalian hanyalah fragmen yang sangat kecil dari luasnya cakupan musisi-musisi papan atas ini.

Walaupun tidak harus memberikan nilai, namun penilaian subyektif penulis atas album ini adalah 9.5/10.

Tidak mencapai nilai sempurna karena kurang berhasil menyuguhkan hal baru dalam album yang sampulnya terinspirasi dari The Beatles, namun memperoleh nilai tinggi karena bisa berhasil menguasai pasar tingkat nasional dengan album yang tidak bisa ditemukan di penyedia layanan streaming papan atas, Spotify.

Baca Juga:

Perjalanan Maell Lee Rebut Anya Geraldine Dari Rian D'Masiv Dalam Video Musik "Lelaki Pantang Menyerah"